OKI – (Pl) Selain kondisi plafon yang rusak dan dugaan suap di lingkungan Disdik Sumsel, kini muncul informasi baru tentang dugaan pungutan liar (pungli) mingguan yang tetap berjalan di SMAN 1 Kayuagung. Pungutan tersebut diperoleh melalui berbagai kegiatan termasuk kegiatan Rohis (Rohani Islam) dan uang OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) yang dinilai tidak jelas penggunaannya. Keluhan masyarakat terhadap permasalahan pendidikan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) semakin mendalam, dengan pertanyaan tajam: “Kemana harus mengadu jika Disdik Sumsel tidak peduli, dan APH tutup mata terkait permasalahan pendidikan di OKI?”
Meski sudah diberitakan berkali-kali, kondisi plafon atap ruang kelas SMAN 1 Kayuagung tak kunjung diperbaiki. Selain itu, dugaan berbagai kasus lainnya mulai mencuat, termasuk dugaan pungli mingguan yang diterapkan kepada siswa setiap pekan dengan dalih pendanaan kegiatan Rohis dan pembayaran uang OSIS yang jumlahnya tidak transparan, membuat masyarakat merasa terabaikan dan tidak mendapatkan keadilan yang diharapkan.
Bahkan, Kabid SMA Disdik Sumsel Basuni diduga telah memblokir nomor WhatsApp jurnalis Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) OKI ketika dilakukan konfirmasi terkait kondisi tersebut. “Saat saya mencoba menghubungi melalui WhatsApp untuk meminta klarifikasi, baik terkait plafon rusak maupun dugaan pungli pada kegiatan Rohis dan uang OSIS, ternyata nomor saya telah diblokir. Ini membuat kita semakin curiga ada sesuatu yang tidak benar,” ujar salah satu jurnalis PPWI OKI.
Dugaan bahwa Disdik Provinsi Sumsel menerima suap mulai mencuat ke permukaan. Masyarakat mengungkapkan kekesalan karena merasa tidak mendapatkan perhatian yang layak dari pihak berwenang. “Kemana harus mengadu jika Disdik Sumsel tidak peduli, dan APH tutup mata terkait permasalahan pendidikan di OKI? Termasuk soal pungli mingguan yang terus berjalan dengan dalih kegiatan Rohis dan uang OSIS yang tidak jelas penggunaannya,” tegas salah satu masyarakat OKI.
Masyarakat menduga bahwa pihak Disdik Provinsi Sumsel telah menerima suap terkait berbagai permasalahan pendidikan di OKI, termasuk kelalaian dalam memperbaiki infrastruktur sekolah, dugaan praktik tidak benar dalam pengalokasian anggaran, serta pembenaran terhadap pungli yang dilakukan melalui kegiatan Rohis dan uang OSIS. Hal ini diperkuat dengan tindakan Kabid SMA Disdik Sumsel Basuni yang diduga memblokir kontak jurnalis ketika melakukan konfirmasi.
“Kita sudah berusaha berbagai cara untuk menyampaikan keluhan, mulai dari masalah plafon sekolah hingga pungli mingguan untuk kegiatan Rohis dan uang OSIS, namun tidak ada tanggapan. Malah ada dugaan bahwa Disdik Provinsi menerima suap sehingga mengabaikan masalah di daerah kita. Ini sangat menyakitkan karena yang dirugikan adalah anak-anak kita yang sedang menimba ilmu,” tambah masyarakat OKI lainnya.
Masyarakat mengungkapkan rasa kecewa yang mendalam karena tidak mendapatkan jalan keluar atas berbagai permasalahan pendidikan di OKI. “Kemana harus mengadu jika Disdik Sumsel tidak peduli, dan APH tutup mata terkait permasalahan pendidikan di OKI? Anak-anak kita terus dikenakan pungli setiap mingguan dengan nama kegiatan Rohis dan uang OSIS, sementara kondisi sekolah yang rusak tidak pernah diperbaiki,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari Disdik Provinsi Sumatera Selatan maupun pihak APH terkait dugaan penerimaan suap, tindakan memblokir kontak yang dilakukan oleh pejabat terkait, serta dugaan pungli mingguan melalui kegiatan Rohis dan uang OSIS di SMAN 1 Kayuagung. (Jul PPWI OKI/Tim Redaksi)
Referensi:







