KH. Mudrik Qori: Integritas Intelektual Rocky Gerung Kini Diuji di Lingkar Kekuasaan

Avatar

Sumsel (PI) — Pelantikan Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) oleh Presiden Prabowo Subianto memunculkan perhatian publik. Sosok yang selama ini dikenal sebagai intelektual dengan kritik tajam terhadap kekuasaan kini berada di dalam struktur pemerintahan sebagai pemberi pertimbangan kepada Presiden.

Perubahan posisi tersebut menjadi sorotan Dr. Drs. KH. Mudrik Qori, MA, Mudir ‘Am Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, sekaligus dosen Universitas Al-Quran Al-Ittifaqiah, melalui tulisannya berjudul “Rocky Gerung Masuk Watimpres: Radical Break atau Radical Compromise?” yang dimuat Radar Bahtera, Minggu (4/10/2026).

Menurut Mudrik Qori, masuknya Rocky ke dalam lingkar kekuasaan menghadirkan pertanyaan penting mengenai kemampuan seorang intelektual mempertahankan independensi pemikirannya ketika berada di dalam struktur yang selama ini menjadi objek kritik.

Rocky, sebagaimana dikutip dalam tulisan tersebut, tetap menempatkan langkahnya sebagai bagian dari radical break. Artinya, keterlibatan dalam pemerintahan tidak harus dimaknai sebagai perubahan prinsip, tetapi dapat menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan dan kritik secara langsung kepada pengambil keputusan.

Namun, menurut Mudrik, posisi tersebut sekaligus menghadirkan tantangan baru. Seorang intelektual yang berada di dalam struktur kekuasaan berhadapan dengan risiko co-optation, yaitu kondisi ketika tokoh atau kelompok dari luar kekuasaan diakomodasi ke dalam struktur sehingga potensi kritik dan resistensinya dapat berkurang.

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah Rocky masuk ke pemerintahan, melainkan apakah ia tetap mampu menjaga jarak kritis dan menyampaikan pandangan yang independen ketika berhadapan dengan kebijakan yang tidak sejalan dengan pemikirannya.

Mudrik juga menyoroti potensi self-censorship atau pembatasan terhadap diri sendiri. Menurutnya, ujian integritas intelektual justru semakin berat ketika seseorang telah berada dekat dengan pusat kekuasaan.

Publik pada akhirnya akan menilai bukan dari jabatan yang diterima Rocky, melainkan dari sikap dan rekam jejaknya selama menjalankan tugas sebagai anggota Wantimpres. Apakah ia tetap berani memberikan pertimbangan kritis ketika pandangannya berbeda dengan pemerintah, serta mampu mempertahankan prinsip ketika menghadapi kebijakan yang tidak sesuai dengan keyakinannya.

Perspektif John Stuart Mill

Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan filsuf Inggris, John Stuart Mill, mengenai pentingnya kebebasan berpikir dan independensi individu. Dalam On Liberty, Mill menekankan pentingnya kebebasan menyampaikan pandangan serta kewaspadaan terhadap tekanan kekuasaan dan opini mayoritas.

Dalam konteks Rocky Gerung, pemikiran Mill relevan untuk melihat bahwa independensi intelektual tidak hanya diuji ketika seseorang berada di luar kekuasaan dan bebas mengkritik. Ujian yang lebih berat justru muncul ketika ia berada di dalam lingkar kekuasaan dan harus menyampaikan pandangan yang mungkin tidak menyenangkan pihak yang memiliki kewenangan.

Pada titik inilah konsep radical break atau radical compromise akan diuji. Jika Rocky tetap menggunakan posisinya untuk memberikan masukan yang kritis, objektif, dan independen, keterlibatannya dapat dipandang sebagai upaya melakukan perubahan dari dalam.

Sebaliknya, jika kedekatan dengan kekuasaan membuat sikap kritisnya melemah atau kehilangan independensi, publik berhak mempertanyakan apakah langkah tersebut telah berubah menjadi bentuk kompromi dengan kekuasaan.

Bagi Mudrik Qori, integritas seorang intelektual pada akhirnya tidak hanya terlihat ketika berada di luar kekuasaan, tetapi terutama ketika ia berada dekat dengan kekuasaan dan harus memilih antara mempertahankan prinsip atau mengikuti kenyamanan posisi.

Dengan demikian, perjalanan Rocky Gerung di Wantimpres menjadi ujian nyata bagi konsistensi pemikiran dan integritas intelektualnya. Waktu dan rekam jejaknya dalam menjalankan tugas akan menjadi jawaban apakah langkah tersebut benar-benar merupakan radical break atau justru radical compromise. (Rls/Tim Red PPWI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!