Jakarta – pewarta investigasi (Pl) – Menurut pandangan Rehan, selasa (27/1/2026) Presiden Prabowo Subianto menandatangani Indonesia bergabung dalam Dewan Perdamaian,
bentukan Donald Trump, sudah benar keputusan Indonesia bergabung dalam Dewan Perdamaian sebagai langkah ikut arus kekuatan besar. keputusan diplomasi yang lahir dari kesadaran konflik Gaza
Selama puluhan tahun posisi Indonesia terhadap Palestina itu tidak pernah berubah. Dukungan politik, dukungan moral, dan diplomatik selalu tegas. Namun realitas politik menunjukkan bahwa dukungan moral saja tidak cukup untuk mempengaruhi arsitektur perdamaian. Dunia internasional
Indonesia secara sadar memindahkan perjuangan Palestina dari ruang simbolik ke ruang strategis, dari luar meja perundingan ke dalam meja tempat masa depan Gaza
Langkah ini juga mencerminkan pergeseran penting dalam strategi diplomasi Indonesia sebagai negara menengah
Indonesia duduk di Dewan Perdamaian Gaza, maka Indonesia bisa membawa legitimasi ke dalam struktur diplomasi internasional yang konkret.
Ini bukan sekedar soal hadir, tetapi soal memastikan bahwa prinsip solusi, perlindungan warga sipil, dan keadilan bagi Palestina tetap menjadi kerangka resmi, Di samping itu, keuntungan strategis bagi Indonesia tidak berhenti pada isu Palestina semata. Keterlibatan ini mengangkat posisi Indonesia dari sekedar moral menjadi penengah mencari solusi dalam geopolitik global”
membutuhkan aktor yang mampu menjembatani kepentingan Barat, dunia Islam, dan negara berkembang.
Indonesia sedang memposisikan diri memperkuat daya tawar Indonesia di forum internasional mulai dari PBB hingga OKI,” Pungkasnya.
(MJ)






